Spilltekno – Kehadiran teknologi AI generatif kini menjadi topik hangat di berbagai industri kreatif. Banyak yang menduga AI, terutama video generator, akan segera menggantikan peran sutradara dan aktor. Namun, sutradara Angga Dwimas Sasongko memiliki pandangan berbeda mengenai kemampuan AI ini.
Angga meyakini bahwa AI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pengguna untuk tetap lebih cerdas dibandingkan teknologi yang mereka pakai. Menurutnya, AI tidak akan serta merta menggantikan pekerja kreatif yang memiliki keahlian unik.
Angga tegas menyatakan bahwa AI bukan solusi untuk menciptakan atau berkreasi. Ia menjelaskan alasan utamanya adalah karena AI tidak memiliki “jiwa” sama sekali. Konten yang dihasilkan AI cenderung terlalu sempurna tanpa sentuhan emosi manusia.
Kesempurnaan yang dihasilkan AI justru menjadi kekurangan dalam konteks seni dan kreativitas. Sebuah karya seni sejati seringkali lahir dari ketidaksempurnaan, pengalaman, dan emosi personal. AI tidak dapat meniru kedalaman perasaan dan intuisi artistik yang menjadi inti penciptaan.
Angga merasa konten buatan AI tidak pantas disebut sebagai sebuah karya seni. Ia berpendapat bahwa seni memerlukan esensi kemanusiaan dan ekspresi individual. Sentuhan manusia dalam setiap proses kreatiflah yang memberikan nilai dan makna sebuah karya.
Video generator AI memang mampu menghasilkan visual yang memukau dan efisien. Namun, Angga mengingatkan bahwa kualitas teknis tidak selalu sejalan dengan kedalaman artistik. Kreativitas sejati melibatkan proses berpikir, merasakan, dan bereksperimen yang kompleks.
Peran AI sejatinya adalah sebagai alat bantu yang meningkatkan produktivitas pekerja kreatif. Teknologi ini dapat mengotomatisasi tugas-tugas repetitif atau membantu dalam riset data. Namun, keputusan artistik dan visi akhir tetap berada di tangan manusia.
Oleh karena itu, pekerja kreatif tidak perlu khawatir akan tergantikan sepenuhnya oleh AI. Justru, mereka harus belajar memanfaatkan AI sebagai rekan kerja yang cerdas. Kolaborasi antara kecerdasan manusia dan mesin akan membuka peluang inovasi baru.
Angga Dwimas Sasongko menegaskan bahwa jiwa dan emosi adalah elemen krusial dalam setiap karya seni. AI mungkin sempurna secara teknis, tetapi ia tidak akan pernah bisa meniru resonansi emosional manusia. Mari kita gunakan AI dengan bijak demi kemajuan, bukan menggantikan esensi kreativitas.
Ikuti terus berita teknologi lainnya hanya di Spilltekno
