Scroll untuk baca artikel
Aplikasi

Pavel Durov Lawan Rusia Demi Kebebasan Telegram

2
×

Pavel Durov Lawan Rusia Demi Kebebasan Telegram

Sebarkan artikel ini
Pavel Durov Lawan Rusia Demi Kebebasan Telegram
Pavel Durov Lawan Rusia Demi Kebebasan Telegram

Spilltekno – Pendiri Telegram, Pavel Durov, secara tegas menolak tunduk pada tekanan otoritas Rusia. Ia menegaskan bahwa aplikasinya akan terus menjunjung tinggi kebebasan dan privasi pengguna, apapun risikonya. Pernyataan ini muncul di tengah upaya Rusia untuk memperketat kendali atas platform komunikasi digital.

Sebelumnya, lembaga pengawas komunikasi Rusia telah mengancam pembatasan lebih lanjut terhadap Telegram. Ancaman tersebut dilayangkan karena Telegram dianggap gagal memperbaiki berbagai pelanggaran yang dituduhkan. Situasi ini menunjukkan eskalasi ketegangan antara pemerintah Rusia dan platform pesan populer tersebut.

Pengadilan Rusia bahkan telah menjatuhkan denda sebesar USD 142.400 kepada Telegram. Denda tersebut merupakan konsekuensi penolakan Telegram untuk menghapus konten yang dikategorikan sebagai ekstremis oleh pihak berwenang. Ini menjadi bukti konkret dari upaya Rusia dalam mengontrol informasi di dunia maya.

Di lapangan, para pengguna Telegram di Rusia mulai melaporkan berbagai kendala akses. Mereka mengalami kecepatan yang lambat dan proses unduhan yang sering tersendat saat menggunakan aplikasi. Kendala ini diduga kuat merupakan dampak dari langkah Rusia yang semakin memperketat cengkeramannya pada saluran komunikasi utama.

Durov, yang juga kelahiran Rusia, selalu memegang teguh prinsip kebebasan berpendapat dan privasi data. Baginya, nilai-nilai ini adalah inti dari keberadaan Telegram sebagai platform. Ia percaya bahwa setiap individu berhak atas komunikasi yang aman dan tanpa sensor.

Sikap Durov ini bukan yang pertama kali dalam menantang otoritas pemerintah. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam membela hak-hak digital dan menolak intervensi negara. Komitmennya yang kuat telah menjadikan Telegram sebagai simbol perlawanan terhadap sensor dan pengawasan massal.

Baca Juga:  Menggali Potensi Industri Kreatif: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan SDM Indonesia

Konflik ini menyoroti pertempuran global antara privasi digital dan kontrol pemerintah. Kasus Telegram vs Rusia bisa menjadi preseden penting bagi masa depan regulasi internet di berbagai negara. Hal ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh penyedia layanan komunikasi.

Meskipun menghadapi ancaman dan sanksi, Pavel Durov tetap teguh pada pendiriannya. Ia terus berkomitmen untuk melindungi pengguna Telegram dari intervensi pihak luar. Perjuangan ini menegaskan pentingnya menjaga ruang digital yang bebas dan aman bagi semua.

Ikuti terus berita teknologi lainnya hanya di Spilltekno

Memuat judul video...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *