Spilltekno – Harga Bitcoin kembali menunjukkan volatilitas ekstrem dengan penurunan signifikan. Aset kripto utama ini kini diperdagangkan di bawah level krusial USD 64.000. Penurunan ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor global.
Dalam setahun terakhir, Bitcoin telah kehilangan hampir 30% dari nilainya. Penurunan tajam ini mencapai titik terendah USD 62.303, level yang belum terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini, harga stabil di sekitar USD 63.010, namun sentimen pasar tetap negatif.
Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menyoroti adanya peningkatan pesimisme. Menurutnya, aksi jual yang terus-menerus menandakan hilangnya minat investor terhadap kripto. Keraguan terhadap masa depan aset digital ini semakin menguat.
Kejatuhan harga Bitcoin secara langsung berdampak pada industri penambangan. Proses menambang token digital kini menjadi jauh kurang ekonomis bagi banyak pihak. Biaya operasional yang tinggi tidak lagi sebanding dengan potensi keuntungan.
Penambangan kripto terkenal memerlukan daya komputasi dan energi yang sangat besar. Mesin-mesin khusus bekerja tanpa henti untuk memverifikasi transaksi dan menciptakan koin baru. Konsumsi energi ini menjadi beban berat saat harga koin anjlok.
Laporan dari Bloomberg mengungkapkan bahwa perusahaan komputasi skala besar mulai mengambil tindakan drastis. Mereka kini terpaksa mematikan sebagian besar peralatan penambangan mereka. Keputusan ini diambil karena operasional sudah tidak lagi menguntungkan.
Penutupan perangkat ini bukan hanya tentang kerugian finansial semata. Ini juga mencerminkan tekanan besar yang dihadapi oleh seluruh ekosistem penambangan kripto. Masa depan profitabilitas penambangan Bitcoin kini dipertanyakan serius.
Situasi ini menegaskan betapa fluktuatifnya pasar kripto dan pentingnya manajemen risiko. Investor dan penambang harus siap menghadapi gejolak harga yang bisa datang kapan saja. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan dinamika pasar yang tidak terduga.
Ikuti terus berita teknologi lainnya hanya di Spilltekno
