Tips

Waspada! Pencurian Kata Sandi Melonjak Drastis, Begini Trik Licik Hacker Mengincar Data Kita

3
×

Waspada! Pencurian Kata Sandi Melonjak Drastis, Begini Trik Licik Hacker Mengincar Data Kita

Sebarkan artikel ini
Waspada! Pencurian Kata Sandi Melonjak Drastis, Begini Trik Licik Hacker Mengincar Data Kita
Waspada! Pencurian Kata Sandi Melonjak Drastis, Begini Trik Licik Hacker Mengincar Data Kita

Spilltekno – Di zaman serba digital ini, data pribadi kita jadi incaran utama. Jangan kaget kalau laporan terbaru menunjukkan kasus pencurian password melonjak tajam! Para hacker makin pintar mencari celah untuk membobol informasi berharga milik kita. Lalu, bagaimana cara menghadapinya?

Spilltekno

Waspada Pencurian Password: Angka yang Bikin Merinding

Laporan dari Kaspersky, perusahaan keamanan siber ternama, mengungkap fakta mencengangkan. Di tahun 2025, sistem mereka mendeteksi rata-rata 500 ribu file berbahaya… setiap hari! Angka ini melonjak 7% dari tahun sebelumnya. Artinya? Ancaman di dunia maya makin ganas, dan kita semua harus lebih hati-hati.

Ada beberapa jenis serangan yang naiknya paling signifikan. Misalnya, deteksi “password stealer” alias pencuri kata sandi, naik 59% dibandingkan tahun 2024! Spyware, yang kerjanya memata-matai, juga ikut naik 51%. Ini menandakan para penjahat siber memang fokus mencuri informasi pribadi dan data sensitif kita. Bahkan, “backdoor” atau pintu belakang untuk masuk ke sistem pun, deteksinya naik 6%. Ngeri!

Data ini, yang dirangkum dalam Kaspersky Security Bulletin, memberi gambaran jelas bahwa lanskap ancaman siber terus berkembang. Volume dan kecanggihan serangan yang makin tinggi menuntut kita semua, baik individu maupun perusahaan, untuk lebih proaktif melindungi diri.

Taktik Kotor Hacker: Bagaimana Mereka Mengintai Data Kita?

Para peretas ini enggak berhenti berinovasi, lho. Mereka terus mengembangkan taktik untuk mencuri data. Beberapa metode yang paling sering dipakai antara lain, menggunakan password stealer, spyware, dan mengeksploitasi celah keamanan.

Password Stealer: Senjata Ampuh Para Pencuri Kata Sandi

Password stealer ini semacam malware yang khusus dirancang untuk mencuri username dan password kita dari berbagai aplikasi dan website. Biasanya, mereka menyusup ke sistem melalui download ilegal, lampiran email yang berbahaya, atau situs web yang sudah terinfeksi.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Status Saluran di WhatsApp

Begitu masuk, password stealer ini akan diam-diam memantau aktivitas kita dan merekam setiap username dan password yang kita ketik. Data curian ini kemudian dikirim ke server yang dikendalikan oleh peretas, yang bisa mereka gunakan untuk mengakses akun pribadi, informasi keuangan, dan data sensitif lainnya. Bayangkan!

Spyware: Mengintai Setiap Gerak-Gerik Online Kita

Spyware ini jenis software jahat yang dirancang untuk memata-matai aktivitas kita tanpa sepengetahuan kita. Mereka bisa merekam apa saja yang kita ketik, mengambil screenshot, melacak riwayat browsing, bahkan mencuri informasi penting seperti nomor kartu kredit dan detail rekening bank.

Penyebarannya seringkali melalui software gratisan yang kita download, lampiran email berbahaya, atau situs web yang terinfeksi. Setelah terinstal, spyware akan beroperasi diam-diam di latar belakang, mengumpulkan informasi tentang kebiasaan online kita dan mengirimkannya ke server peretas.

Eksploitasi Celah Keamanan: Pintu Masuk Rahasia ke Sistem

Para peretas juga sering memanfaatkan celah keamanan (kerentanan) dalam software dan sistem operasi untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem. Celah ini bisa dimanfaatkan untuk menjalankan kode berbahaya, menginstal malware, atau mencuri data.

Mereka seringkali menggunakan alat otomatis untuk memindai jaringan dan sistem, mencari celah keamanan yang diketahui. Begitu ketemu, mereka bisa menyusup ke sistem dan mencuri data, menginstal malware, atau mengendalikan sistem dari jarak jauh. “Celah keamanan tetap menjadi cara paling populer bagi penyerang untuk masuk ke jaringan perusahaan,” kata Alexander Liskin, Kepala Riset Ancaman di Kaspersky.

Siapa Saja Target Utama Serangan Siber?

Meskipun semua pengguna internet berpotensi jadi korban, ada beberapa kelompok yang lebih rentan. Misalnya, pengguna Windows seringkali jadi incaran utama para peretas.

Pengguna Windows: Target Favorit Para Hacker

Data dari Kaspersky menunjukkan bahwa 48% pengguna Windows menjadi target berbagai jenis ancaman sepanjang tahun 2025. Angka ini jauh lebih tinggi daripada pengguna Mac, yang hanya 29%. Salah satu alasannya, Windows lebih populer, sehingga jadi target yang lebih menguntungkan bagi para peretas. Selain itu, Windows seringkali punya lebih banyak celah keamanan yang diketahui dibandingkan sistem operasi lain.

Baca Juga:  Cara Merawat Keyboard Mekanik Agar Awet Digunakan

Ancaman Online vs. Ancaman Perangkat: Apa Bedanya?

Ancaman siber bisa dibedakan jadi dua jenis utama: ancaman online dan ancaman perangkat. Ancaman online menargetkan kita saat sedang online, dan seringkali melibatkan malware yang disebarkan melalui situs web yang terinfeksi, email phishing, atau iklan berbahaya. Sekitar 27% pengguna global diserang oleh ancaman berbasis online.

Ancaman perangkat, di sisi lain, menargetkan perangkat kita secara langsung, dan seringkali disebarkan melalui USB, CD, DVD, atau program yang terenkripsi. Sekitar 33% pengguna pernah terdampak oleh ancaman pada perangkat.

Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Pencurian Kata Sandi?

Meskipun ancaman pencurian kata sandi terus meningkat, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dan data pribadi kita.

Gunakan Kata Sandi yang Kuat dan Unik

Salah satu cara paling efektif adalah dengan menggunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap akun online. Kata sandi yang kuat minimal 12 karakter dan mengandung kombinasi huruf besar dan kecil, angka, dan simbol. Hindari menggunakan kata-kata di kamus, nama, tanggal lahir, atau informasi pribadi lainnya yang mudah ditebak.

Aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA)

Autentikasi dua faktor (2FA) menambahkan lapisan keamanan ekstra ke akun online kita dengan meminta kode verifikasi selain kata sandi saat kita login. Kode verifikasi ini biasanya dikirim ke ponsel kita melalui SMS atau aplikasi autentikator.

Waspadai Phishing dan Tautan Mencurigakan

Phishing adalah teknik yang digunakan peretas untuk menipu kita agar memberikan informasi pribadi, seperti kata sandi, nomor kartu kredit, dan detail rekening bank. Serangan phishing seringkali dilakukan melalui email, pesan teks, atau situs web palsu yang meniru organisasi atau perusahaan yang sah. Hati-hati dengan email atau pesan yang meminta informasi pribadi, terutama jika tampak mencurigakan. Jangan pernah mengklik tautan atau mengunduh lampiran dari sumber yang tidak dikenal.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Garis Merah di Word Mudah dan Praktis

Perbarui Perangkat Lunak Secara Teratur

Pembaruan perangkat lunak seringkali mengandung perbaikan keamanan yang menambal celah keamanan yang bisa dieksploitasi oleh peretas. Pastikan untuk memperbarui sistem operasi, browser web, dan aplikasi lainnya secara teratur untuk melindungi diri dari ancaman terbaru.

Gunakan Antivirus dan Perangkat Lunak Keamanan yang Terpercaya

Perangkat lunak antivirus dan keamanan dapat membantu melindungi diri dari berbagai jenis ancaman siber, termasuk malware, spyware, dan virus. Pastikan untuk menginstal perangkat lunak keamanan yang terpercaya dan memperbaruinya secara teratur untuk memastikan perlindungan yang optimal.

Kesimpulan: Jangan Anggap Remeh Keamanan Siber!

Lonjakan kasus pencurian kata sandi ini jadi pengingat pentingnya keamanan siber di era digital ini. Dengan memahami taktik yang digunakan oleh peretas dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk melindungi diri, kita bisa mengurangi risiko menjadi korban. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik, aktifkan autentikasi dua faktor, waspadai phishing, perbarui perangkat lunak secara teratur, dan gunakan perangkat lunak keamanan yang terpercaya. Dengan terus meningkatkan kesadaran dan menerapkan praktik keamanan siber yang baik, kita bisa menjaga keamanan data pribadi dan mengurangi risiko menjadi korban kejahatan siber.

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News dan Saluran WhatsApp Channel

Memuat judul video...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *