Spilltekno – Sistem pengacakan soal yang diterapkan dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) digadang-gadang bisa jadi benteng ampuh melawan kecurangan. Tapi, seefektif apa sih sistem ini menjaga kerahasiaan soal dan mencegah praktik contek-mencontek? Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yakin betul, sistem ini dirancang sedemikian rupa demi keadilan dan integritas ujian. Meski begitu, beberapa ahli dan pengamat pendidikan masih melihat adanya celah yang mungkin bisa dimanfaatkan. Mari kita telusuri lebih dalam soal keamanan sistem TKA yang diacak ini.
Bagaimana Pelaksanaan TKA di Hari Pertama?
Senin, 3 November 2025, jadi hari pertama pelaksanaan TKA. SMAN 78 Jakarta jadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus dari Kemendikdasmen. Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikdasmen, bahkan turun langsung untuk meninjau jalannya ujian. Tujuannya jelas, memastikan semua berjalan lancar, tertib, dan yang paling penting, mencegah segala bentuk kecurangan.
“Kami ingin memastikan TKA berjalan sesuai standar yang ada,” kata Pak Gogot setelah meninjau lokasi. “Sistem pengacakan soal ini adalah salah satu cara kami untuk menjaga integritas ujian.”
Secara umum, hari pertama TKA dilaporkan berjalan mulus. Tidak ada masalah teknis yang berarti. Token ujian sudah aktif sejak pukul 07.30 WIB, dan semua komputer serta jaringan dipastikan siap digunakan peserta. Tapi, pengawasan tetap ketat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Inti dari Sistem Pengacakan Soal
Sistem pengacakan soal adalah andalan utama dalam TKA. Ide dasarnya adalah setiap peserta ujian akan menerima soal yang berbeda-beda. Jadi, tidak ada dua orang pun yang mendapatkan urutan atau kombinasi soal yang sama. Harapannya, ini bisa meminimalisir upaya contek-mencontek atau berbagi jawaban.
Sistem ini bekerja dengan bantuan teknologi komputer. Setiap peserta akan menerima token dan paket ujian yang berbeda secara acak. Sistem akan secara otomatis mengacak urutan soal, pilihan jawaban, bahkan tipe soal yang muncul di layar masing-masing peserta.
Kata Dirjen PAUD Dikdasmen Soal Sistem Ini
Pak Gogot Suharwoto menekankan betapa pentingnya sistem pengacakan soal untuk menjaga integritas TKA. Beliau juga mengimbau peserta ujian untuk tidak mencari bocoran soal, karena sistem ini memang dirancang untuk mencegah hal itu.
“Nggak usah cari bocoran, percuma, karena setiap laptop itu soalnya beda-beda. Jadi nggak mungkin ada yang sama,” tegas Pak Gogot. “Sistem ini dibuat supaya hasil ujian benar-benar menggambarkan kemampuan akademis masing-masing.”
Pak Gogot menambahkan, sistem pengacakan soal ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan Kemendikdasmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan proses seleksi yang adil dan transparan.
Cara Kerja Komputer di Balik Pengacakan
Secara teknis, sistem pengacakan soal menggunakan algoritma kompleks untuk menghasilkan kombinasi soal yang unik bagi setiap peserta. Sistem akan memilih soal dari bank soal yang besar, lalu mengacak urutan dan pilihan jawabannya. Bahkan, sistem ini juga bisa menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan kemampuan peserta.
“Sistem komputerisasi ini jalan otomatis dan real-time,” jelas seorang ahli IT dari Kemendikdasmen yang minta namanya dirahasiakan. “Kami pakai algoritma canggih untuk memastikan setiap peserta dapat kombinasi soal yang benar-benar beda.”
Sistem ini juga dilengkapi dengan fitur keamanan tambahan, seperti enkripsi data dan otentikasi dua faktor, untuk mencegah akses ilegal ke bank soal dan sistem ujian.
Potensi Kebocoran: Sekecil Apa, dan Bagaimana Mengatasinya?
Walaupun diklaim aman, beberapa ahli dan pengamat pendidikan tetap melihat adanya potensi celah dalam sistem pengacakan soal. Salah satunya adalah kemungkinan kebocoran dari pihak internal yang punya akses ke bank soal atau sistem ujian.
“Walaupun sistem pengacakan soal bikin susah contek-mencontek antar peserta, potensi kebocoran dari dalam tetap ada,” kata Dr. Ratna, seorang pengamat pendidikan. “Penting untuk memperketat pengawasan dan audit ke semua pihak yang terlibat dalam TKA.”
Selain itu, kebocoran juga bisa terjadi akibat peretasan sistem komputerisasi. Karena itu, sistem keamanan harus selalu diperbarui dan ditingkatkan secara berkala.
Untuk mengatasi potensi kebocoran ini, Kemendikdasmen perlu mengambil langkah-langkah mitigasi yang komprehensif:
* Peningkatan Keamanan Sistem: Memperkuat sistem keamanan komputerisasi dengan enkripsi data yang kuat, otentikasi dua faktor, dan pemantauan aktivitas yang mencurigakan.
* Audit Internal: Melakukan audit internal secara berkala untuk mencari dan memperbaiki potensi celah keamanan.
* Pengawasan Ketat: Memperketat pengawasan terhadap semua pihak yang terlibat dalam proses TKA, termasuk staf internal, pengawas ujian, dan peserta ujian.
* Pelatihan Keamanan: Memberikan pelatihan keamanan kepada semua pihak yang terlibat untuk meningkatkan kesadaran akan risiko keamanan dan cara mencegah kebocoran data.
Pesan Penting untuk Peserta Ujian
Menjelang TKA berikutnya, Kemendikdasmen mengimbau semua peserta ujian untuk mempersiapkan diri dengan baik dan menghindari segala bentuk kecurangan. Lebih baik fokus pada pemahaman materi dan latihan soal, daripada mencari bocoran yang belum tentu benar.
“Persiapkan diri baik-baik dan percaya pada kemampuan diri sendiri,” pesan Pak Gogot Suharwoto. “Jangan tergoda untuk mencari bocoran soal, karena sistemnya sudah dirancang untuk mencegah itu. Yang paling penting itu jujur dan berintegritas saat mengerjakan ujian.”
Kemendikdasmen juga menyediakan berbagai sumber belajar dan contoh soal yang bisa diakses secara online. Peserta bisa memanfaatkan sumber-sumber ini untuk mempersiapkan diri lebih baik dan meningkatkan peluang meraih hasil maksimal. Dengan persiapan yang matang dan integritas yang tinggi, diharapkan semua peserta TKA bisa meraih kesuksesan di masa depan.
Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News dan Saluran WhatsApp Channel
