Spilltekno – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) punya ambisi besar: menjadikan Indonesia sebagai pemain utama pusat data di Asia Tenggara. Caranya? Dengan menyiapkan sejumlah strategi jitu yang diharapkan bisa mendongkrak daya saing kita. Mulai dari rayuan insentif pajak, mempermudah urusan regulasi yang sering bikin pusing, menata lokasi strategis, hingga pemanfaatan energi hijau yang ramah lingkungan. Semuanya dirancang dalam satu mekanisme pengelolaan data nasional yang terintegrasi.
Insentif Pajak: Jurus Ampuh Gairahkan Investasi
Mengapa Insentif Pajak Itu Penting?
Kominfo paham betul, persaingan di ASEAN untuk menarik investasi pusat data itu sengit. Salah satu kartu truf yang diandalkan adalah insentif pajak yang menggiurkan. Harapannya, investor asing dan lokal berbondong-bondong menanamkan modalnya di sini. Insentif ini bisa diberikan kepada penyedia pusat data, atau bahkan pelanggan yang mengimpor perangkat keras khusus untuk operasional pusat data.
“Insentif pajak itu kunci! Tanpa itu, berat bersaing. Investor pasti cari negara lain yang lebih menguntungkan,” tegas Budi Santoso, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kominfo, dalam sebuah kesempatan di Jakarta.
Lebih jauh, Budi menekankan soal kepastian. “Investor itu butuh jaminan. Insentif yang dikasih, berlakunya harus jangka panjang. Biar mereka bisa hitung-hitungan balik modalnya dengan lebih jelas.” Intinya, kepastian hukum dan regulasi yang stabil itu jadi pertimbangan utama sebelum investor memutuskan berinvestasi di infrastruktur digital.
Perizinan Jangan Bikin Investor Lari
Selain insentif pajak, Kominfo juga menyoroti pentingnya memangkas proses perizinan yang berbelit-belit. Urusan izin yang rumit dan lama sering jadi batu sandungan bagi investor.
“Perizinan yang efisien dan transparan itu bisa memangkas biaya operasional dan mempercepat realisasi proyek pusat data,” jelas Budi. Kominfo berencana menggandeng berbagai kementerian dan lembaga terkait untuk menyederhanakan prosedur perizinan, termasuk izin lokasi, IMB, dan izin operasional.
Tata Ruang dan Infrastruktur Jadi Kunci
Pusat Data Jangan Cuma di Jawa dan Batam
Kominfo juga menekankan pentingnya menata pengembangan pusat data secara strategis. Salah satu yang jadi perhatian adalah pemerataan lokasi di seluruh Indonesia. Jangan sampai pusat data cuma numpuk di Jawa dan Batam saja.
“Kita ingin mendorong pembangunan pusat data di wilayah Barat, Tengah, dan Timur Indonesia. Ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital di seluruh pelosok negeri,” kata Budi. Dengan menyebar pusat data, diharapkan latensi data bisa ditekan, keandalan jaringan meningkat, dan ekonomi bisa lebih merata.
Lokasi Strategis: Dekat Kabel Laut Itu Wajib
Lokasi ideal untuk pusat data adalah yang dekat dengan titik pendaratan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL). Tujuannya jelas, meminimalkan latensi data. Bayangkan, kalau transaksi keuangan online atau main game online lemot gara-gara data harus muter-muter jauh, pasti bikin kesal kan?
“Dengan menempatkan pusat data dekat dengan SKKL, kita bisa memangkas waktu tempuh data dan bikin pengalaman pengguna jadi lebih baik,” jelas Budi. Selain itu, ketersediaan listrik yang stabil dan murah juga jadi pertimbangan penting dalam memilih lokasi pusat data.
Energi Hijau, Daya Tarik Investor Masa Kini
Kominfo juga mendorong penggunaan energi hijau dalam operasional pusat data. Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin bisa mengurangi emisi karbon dan menarik investor yang peduli lingkungan.
“Pusat data yang pakai energi hijau akan lebih menarik bagi investor global yang makin memperhatikan aspek keberlanjutan,” kata Budi. Kominfo berencana memberikan insentif tambahan bagi pusat data yang menggunakan energi terbarukan.
Satu Data untuk Semua: Mekanisme Nasional Terintegrasi
Data Terintegrasi, Landasan Kebijakan yang Tepat
Untuk mendukung perencanaan dan pengembangan pusat data yang efektif, Kominfo mengusulkan pembentukan mekanisme nasional terintegrasi untuk mendata lokasi dan kapasitas pusat data. Data yang lengkap dan akurat akan memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi industri pusat data di Indonesia.
“Data yang terintegrasi akan jadi dasar bagi pengambilan kebijakan yang tepat dan terarah,” jelas Budi. Dengan data yang akurat dan terkini, pemerintah bisa mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur, merencanakan investasi, dan memantau perkembangan industri pusat data.
Prospek Cerah Ekonomi Digital Indonesia
Industri pusat data di Indonesia punya masa depan yang cerah seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai 365 miliar Dolar AS pada tahun 2030. Digitalisasi berbagai sektor, termasuk keuangan, perdagangan, logistik, dan kesehatan, membutuhkan infrastruktur pusat data yang handal dan aman.
Pertumbuhan ekonomi digital ini memicu permintaan akan layanan pusat data yang terus meningkat. Perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor berlomba-lomba memanfaatkan layanan cloud computing, big data analytics, dan artificial intelligence, yang semuanya membutuhkan infrastruktur pusat data yang kuat.
Kekuatan Kolaborasi
Untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat data regional, dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, dan kawasan industri. Pemerintah berperan sebagai pembuat kebijakan dan regulator, pelaku industri menyediakan layanan pusat data, dan kawasan industri menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung.
Kolaborasi yang sinergis antara ketiga pihak ini akan menciptakan ekosistem pusat data yang kondusif bagi pertumbuhan dan inovasi. Dengan dukungan yang kuat dari semua pihak, industri pusat data Indonesia punya potensi besar untuk jadi pemain utama di tingkat regional. Spilltekno
Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News dan Saluran Whatsapp Channel